Strategi Sukses Pembelajaran Daring

Jika Anda membaca artikel ini dan Anda seorang pendidik, SELAMAT Anda telah melewati tahun ajaran 2019-2020. Sebagai pendidik, kita sekarang dihantui oleh rasa takut. Kita tidak tahu apakah kita akan tetap mengajar secara daring, tatap muka, atau kombinasi dari keduanya. Sayangnya, sampai saat ini belum ada jawaban untuk itu. Namun, ada beberapa bentuk pendekatan atau filosofi yang akan memberdayakan pembelajaran daring, dan kabar baiknya,  pendekatan tersebut juga dapat diterapkan dalam pembelajaran tatap muka.

Pendekatan ini berpusat pada premis bahwa pembelajaran dan pengajaran yang berhasil hanya dapat terjadi ketika guru dan siswa merasa diberdayakan. Lingkungan yang memberdayakan, baik dalam bentuk daring maupun tatap muka, sering kali mencakup beberapa strategi yang dibahas di bawah ini.

  1. Otentik  
    Sederhananya, guru harus jujur ​​pada diri mereka sendiri dan juga jujur ​​kepada siswa mereka. Menggunakan gaya mengajar guru lain tidak akan selalu berhasil. Demikian juga, tidak mempertimbangkan karakter unik peserta didik dalam pembelajaran akan mengakibatkan kurangnya motivasi dan minat belajar siswa. Anda tidak perlu mengubah gaya mengajar Anda agar pembelajaran menjadi efektif. Gunakan jenis pendekatan yang membuat Anda nyaman mengajar — dan jika Anda dapat menyesuaikan pembelajaran dengan minat siswa, peluang untuk menciptakan lingkungan belajar daring yang efektif akan meningkat.
    Seorang guru baru, belajar mengenai perlunya bersikap otentik dihadapan siswanya dan menggunakan minat mereka untuk membantu mencapai tujuan akhirnya. Dia berniat menggunakan seni untuk memancing diskusi dalam kelas. Setelah beberapa kali gagal mengupayakan siswa-siswanya mendiskusikan karya seni klasik, ia menyadari bahwa seluruh kelas terobsesi dengan permainan video. Untuk menarik minat siswa, guru tersebut meminta mereka untuk membandingkan dan membedakan citra dalam permainan video dan menggunakannya sebagai fokus perdebatan dan diskusi.
  1. Familiar
    Sebagai pendidik, terkadang kita ingin mencoba semua sumber belajar yang kita anggap baik. Tetapi hal ini bisa sangat melelahkan bagi kita dan siswa kita. Hal yang sama berlaku untuk penilaian dan kegiatan belajar. Ada banyak ide pembelajaran yang bagus di luar sana, dan mungkin sulit menahan diri untuk tidak mencobanya.
    Jadi, bagaimana Anda mencapai keseimbangan antara mencoba sumber belajar baru dan berusaha untuk tidak membebani siswa Anda? Pada awal tahun ajaran, buatlah sebuah survey kepada siswa untuk mengetahui sejauh apa pemahaman mereka dalam menggunakan yang alat belajar daring seperti misalnya Flipgrid, Google Forms, Padlet, Parley, dll. Mintalah juga mereka untuk menilai tingkat kesulitan mereka dalam menggunakan alat belajar daring tersebut. Ini akan membantu Anda untuk memetakan alat belajar mana yang lebih familiar bagi mereka dan alat belajar mana yang akan menimbulkan banyak kesulitan. Hal yang sama dapat dilakukan untuk penilaian formatif dan sumatif.
    Survey ini bertujuan untuk  menemukan alat bantu belajar daring atau model penilaian di mana siswa merasa nyaman. Hal ini juga dapat membantu kita menemukan alternatif alat belajar daring untuk materi dan kegiatan belajar yang berbeda.
  1. Sederhana
    Dalam pembelajaran daring, kesederhanaan seringkali menjadi kunci. Tujuannya adalah agar semua instruksi dapat diakses dan dipahami semudah mungkin bagi siswa dan guru. Tugas yang diberikan dapat diselesaikan dengan teknologi yang sederhana namun tetap memberikan pemahaman yang mendalam.
    Sebagai contoh, seorang guru matematika, alih-alih menugaskan siswa bekerja dalam program online (yang membutuhkan beberapa langkah untuk login), dia memposting masalah untuk dipecahkan di kelas daring-nya. Siswa melengkapi tugas tersebut, mengambil gambar, dan mengirimkan. Ini jauh lebih mudah bagi siswa daripada harus belajar program baru. Guru tersebut juga dapat meminta siswa merekam diri mereka sendiri untuk menjelaskan bagaimana mereka memecahkan masalah tersebut. Ini untuk memastikan bahwa mereka benar benar memahami bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.
    Menyederhanakan tugas juga dapat meningkatkan aksesibilitas bagi pelajar yang tidak memiliki akses yang baik ke Wi-Fi dan komputer. Proses pembelajaran yang sederhana memungkinkan mereka untuk mengakses tugas mereka dan menyelesaikannya di smartphone atau perangkat pintar jika komputer tidak tersedia.
  1. Fleksibel 
    Fleksibilitas berarti memberikan kesempatan pada siswa untuk mengekspresikan pemahaman mereka dalam berbagai cara dan bahwa tidak ada satu cara mutlak dalam menyelesaikan sebuah tugas. Mereka diberi berbagai pilihan untuk menunjukkan pemahaman mereka. Hal ini akan membuat siswa merasa punya kendali terhadap pilihan dan proses pembelajaran mereka. Dari sudut pandang instruksional, hal ini akan dapat meningkatkan peluang penyelesaian tugas dan kualitas tugas yang dikerjakan.
    Bagaimana hal ini diterapkan dalam pembelajaran?  Sebagai contoh, guru Bahasa menugaskan siswa untuk membaca beberapa bab buku dalam pembelajaran daring. Diakhir setiap bab, siswa harus menunjukkan bahwa mereka memahami isinya. Siswa dapat menjelaskan dalam bentuk video, timeline, dan/atau dalam bentuk poin-poin. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan Google Documents, atau siswa juga dapat menuliskan jawaban mereka dan mengirimkan foto hasilnya.
  1. Terorganisir
    Uraikan instruksi pembelajaran sejelas mungkin kepada siswa dan orang-orang yang membantu mereka belajar. Jelaskan logika untuk urutan tugas dan mengapa urutan tersebut harus dilakukan. Membuat infografis dan bagan alir akan mengurangi beban kognitif dari membaca terlalu banyak teks. Kemudian, Anda bisa memasukkan hyperlink ke dalam dokumen yang memungkinkan siswa mengklik untuk mengakses materi.
    Seorang guru berpengalaman menyarankan untuk meminta seseorang mengerjakan tugas tersebut dari sudut pandang siswa. Akan lebih baik jika orang tersebut adalah guru yang mengajar mata pelajaran yang berbeda, atau bahkan bukan dari kalangan guru. Hal ini akan membantu memastikan apakah alur pembelajaran yang sudah disusun bisa dipahami dengan mudah.
  1. Ringkas
    Anda harus mengkomunikasikan secara ringkas apa yang perlu dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa Anda. Mengapa ini sangat penting? Siswa kelebihan beban dengan instruksi dan tugas yang harus diselesaikan. Dalam kelas tatap muka, kita dapat secara verbal menjelaskan apa yang perlu dilakukan, tetapi hal ini tidak selalu bisa dilakukan dalam pembelajaran daring. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga agar instruksi pengerjaan tetap ringkas. Hal ini juga akan beguna pada saat siswa meminta bantuan seseorang yang mungkin tidak terbiasa dengan istilah yang digunakan dalam kelas tatap muka.
    Untuk mempermudah komunikasi, penjelasan video tentang tugas sering kali berguna, seperti halnya bagan alur untuk menekankan langkah-langkah penting. Menggunakan poin-poin untuk mengurangi beban kognitif membaca teks dalam jumlah yang berlebihan juga akan sangat membantu.
    Seorang guru sekolah menengah, meminta murid-muridnya melakukan pembelajaran berbasis proyek. Sambil memberikan instruksi tertulis, dia juga merekam video dirinya menjelaskan instruksi tersebut dan mengevaluasinya. Seringkali, siswa lebih mudah memahami lewat video daripada membaca instruksi itu sendiri.

Tentu saja tidak semua strategi ini dapat diterapkan pada setiap kegiatan, penilaian, atau penugasan. Namun, semakin banyak strategi yang Anda terapkan, semakin besar kemungkinan Anda dan siswa Anda akan berhasil dalam pembelajaran daring.

Artikel disadur dari https://www.edutopia.org/article/6-strategies-successful-distance-learning